Catatan Hitam Di Festival Kopi Karo

Tanah Karo | KABARBERANDA.Com – Anggaran sebesar Rp 200 juta yang digelontorkan Pemda Karo untuk sebuah gawean pestival kopi Karo, sepertinya kurang greget. Pasalnya kegiatan yang resmi dibuka Sabtu (23/11)  di Taman Mejuah juah Berastagi itu minim pengunjung. Disebut sebut kurangnya sosialisasi disertai info ketidaksinkronan kepanitiaan, diduga sebagai pemicu minimnya pengunjung. Menurut penggiat kopi ada catatan hitam di Festival Kopi Karo kali ini, Benarkan anggaran sebesar Rp 200 juta itu ada yang “tercecer”..?…entahlah  

Kegiatan Festival Kopi Karo digelar selama dua hari, 23-24 Nopember 2019 yang digawangi Pemda Karo terkesan dipaksakan boleh disebut asal asalan. Ada kabar yang berembus cuma sekedar menghabiskan anggaran Rp 200 juta yang telah ditampung dalam APBD Kabupaten Karo. Selain pengunjung yang minim, sejumlah stand juga mengalami kekosongan.

“Ada beberapa peserta yang telah mendaftar namun belum datang. Belum diketahui alasan pasti mengapa mereka belum membuka standnya. Tetapi kita telah berupaya keras untuk menyukseskan acara ini,” ujar koordinator Festival Kopi Karo Debora Morina Br Barus, didampingi Sekretaris Dinas Perindustrian Perdagangan Kabupaten Karo Hartoni Keliat kepada Wartawan, Sabtu siang.

Disinggung terkait kesiapan panitia sebelum penyelenggaraan, Debora Morina Br Barus menyatakan pihaknya telah berulang kali mengadakan rapat lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang terlibat langsung dengan kegiatan Festival  diantaranya dengan Dinas Pertanian dan Dinas Pariwisata Kabupaten Karo.

“Selain dengan OPD, asosiasi kopi yang ada di Tanah Karo juga telah kita gandeng dalam mensukseskan kegiatan ini. Sejumlah spanduk dan undangan telah kita sebar. Target kita kali ini adalah lebih memperkenalkan Kopi Karo kepada masyarakat dan wisatawan,” papar Debora dan Hartoni.

Sehubungan hal tersebut ketua pelaksana harian, Asosiasi Pelaku Kopi Karo (APKK), Elfran Surbakti, kepada Wartawan melalui telepon selularnya mengaku sangat kecewa dengan penyelenggaraan Festival Kopi Karo yang kurang menggandeng pelaku kopi. Agenda kegiatan rutin yang semestinya terkemas maksimal, dalam kenyataanya sangat bertolak belakang.

“Festival Kopi Karo, asosisasi yang peras keringat dan pontang- panting merintis dan malaksanakannya. Namun dalam perjalanan kedepannya, seolah Pemda Karo yang mensukseskan dan memegang peran penting dalam memajukan perkopian Tanah Karo. Pelajaran berharga kedepannya, ini sebagai bahan evaluasi. Pemda punya uang, tetapi asosisasi yang miliki komunitas, wajar sepi,” papar Elfran.

Info yang diperoleh Wartawan di lapangan, dalam kepanitian Festival Kopi Karo terjadi kekisruhan dalam kepanitian Pemda Karo dengan pelaku kopi (asosiasi). Dimana Pemda Karo terkesan mengambil peran dalam pelaksanaan. Padahal sebelumnya sebagai perintis kegiatan dalam memajukan perkopian Tanah Karo adalah penggiat kopi.

Acara Festival Kopi Karo dibuka oleh Wakil Bupati Karo, Corry S Sebayang, hanya dihadiri sekitar seratusan orang. Unsur Muspida Plus Kabupaten Karo juga tidak tampak lengkap dalam pembukaan. Sejauh ini, mayoritas pelaku kopi Tanah Karo sangat kecewa dengan kegiatan yang terselenggara dengan sekedar terlaksana saja, miris memang. Pihak Pemda Karo belum terkonfirmasi soal adanya dugaan anggaran yang “tercecer” penyebab kurang gregetnya kegiatan itu. (KB/Maman Irwansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *